Halaman

Kamis, 13 Mei 2010

Menulis Sebagai Ritual Sejarah

Oleh : Latif Abdullah

Sejenak, mari kita mengingat pelajaran sejarah sewaktu kita duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tanpa perlu menunggu terlalu lama dalam mengimaji beberapa masa yang telah terlewat, aku akan bertanya “apa yang terfikir tentang kata sejarah?”. Dalam waktu yang bersamaan setelah pertanyaan ini, beberapa jawaban mungkin terlintas dalam benak kalian. Sejarah merupakan pelajaran yang membosankan, sejarah merupakan pelajaran yang berbicara tentang masa yang telah berlalu, sejarah berbicara peninggalan, sejarah berbicara tentang kerajaan-masyarakat masa lalu dan masih banyak beberapa gambaran jawaban atas term sejarah pada saat itu dan masih (mungkin) sampai saat ini.


Terlepas dari istilah sejarah diatas, terdapat juga dalam pelajaran sejarah kita di masa itu (SMP) istilah pra-sejarah. Boleh sepakat, kita (dapat) memaknainya sebagai suatu masa sebelum sejarah. Demikian, berarti terdapat dua istilah dalam pembahasan kita kali ini yaitu sejarah dan pra-sejarah. Selanjutnya muncul beberapa gagasan terkait dengan apa batasan diantara keduanya. Jelaslah, bahwa pra-sejarah tadi kita maknai dengan masa sebelum sejarah, sehingga masa sejarah merupakan akhir dari masa pra-sejarah. Sedikit menyesatkan diri kita sementara dalam sebuah pengistilahan, namun demikian jawaban sementara telah pernah dijawab.

Sejarah dan Tulisan

Sejarah dimulai sejak dikenalinya tulisan, mungkin kita pernah mendengar pernyataan ini sebelumnya. Terlepas dari bagaimana kita memaknai sebuah tulisan atau bahasa catatan, namun demikian itu menjadikan generasi setelah para “penulis” mampu mendaptkan informasi tentang peradaban jauh sebelum generasi itu lahir. Ketika belajar sejarah di bangku Sekolah Menengah Pertama, sempat dikenalkan beberapa materi seperti penggunaan bahasa sanskerta dan huruf pallawa pada beberapa peninggalan kerajaan nusantara Hindu-Budha. Beberapa prasasti berhurufkan pallawa mampu membuka pengetahuan akan masa itu.

Jauh sebelumnya, dalam hitungan tahun sebelum masehi (SM) pada masa yunani kuno (pastinya) telah dikenalkan tulisan yang sempat diterjemahkan oleh para ilmuan muslim seperti Ibn Rusdy (Averoes). Lebih jauh lagi atau sekitar 4rb SM juga terdapat beberapa peninggalan berupa tulisan dari peradaban mesir berupa huruf bergambar (hiroglif). Sejauh ini tangkapan penulis, beberapa peradaban agung dapat dikenal dan dipelajari ketika mewariskan sebuah tulisan atau catatan dan sudah menjadi keharusan bagi sebuah peradaban agung meninggalkan catatan.

Kita tidak bermaksud untuk membahas tentang catatan-catatan yang ditinggalkan oleh peradaban agung seperti saat kita belajar sejarah dulu, namun mengapa mesti meninggalkan tulisan. Sekiranya ada sebuah hal yang lebih mungkin sebagai distribusi informasi pengetahuan dari masa lalu yang lebih baik tangkapan informasinya selain tulisan, maka tulisan tidak akan bertahan saat ini. Beberapa penguasa masa lalu yang menginginkan untuk dapat dikenang, pun menggunakan tulisan pada media seperti prasasti-prasasti, kitab-kitab maupun dinding-dinding seperti pada candi.

Menuliskan Sejarah

Sementara kita memahami sejarah sebagai masa saat dikenalnya tulisan, maka pada sisi pengetahuan yang lain penulis beranggapan bahwa sesuatu yang dicatat dengan tulisan akan terus terwariskan, lebih jauh seorang penulis akan mewariskan dirinya sebagai bagian sejarah untuk generasi selanjutnya. Pramodya misalnya, menjadi seorang pribadi yang dikenal dalam perjalanan dan intrik Orde Baru, buku-bukunya telah menjadikan dia sebagai bagian dari sejarah.

Demikian dalam pemahaman penulis yang lebih jauh, tulisan adalah sebuah catatan (proses kognitif dan kejiwaan) yang akan membawa penulisnya bersama catatan itu. Intrik dalam tulisan akan membawa ibu tulisan. Ketika tulisan menjadi bagian dari sebuah sejarah tertentu, maka penulisnya-pun akan menjadi bagian dari sejarah.
Akhirnya bagaimana kita menjadi bagian dari sejarah?, menulislah tentang apa yang kau lihat dan fikirkan, setidaknya engkau menulis tentang dirimu untukmu dan anakmu kelak. Atau aku sampaikan pilihan terakhir yang mungkin "kau di tulis oleh sejarah". []

sumber : Gubuk Wacana [www.gubukwacana.blogspot.com]

Wacana Dunia Maya

kunjungi juga Gubuk Wacana