BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam
menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senantiasa terkagum atas
apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh
panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak
yang berpaling kepada agama atau kepercayaan ilahiyah.
Tetapi
sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan
manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya
yang ada dibalik segala kenyataan (realitas). Proses mencari tahu itu
menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu memiliki
ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat
dipertanggung jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
Dari
uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki
manusia itu tidak luput dari keterkaitan yang sangat erat dengan agama atau
kepercayaan ilahiyah. Maka dari itu pembahasan tentang sejarah pertumbuhan dan
perkembangan filsafat ilmu dari dunia Islam, dari metafisika keagama sangat
diperlukan agar dapat memberikan pengetahuan serta wawasan yang luas tentang
hal tersebut.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana sejarah munculnya filsafat
ilmu serta pertumbuhan dan perkembangan di dunia Islam?
2. Coba deskripsikan wilayah, objek dan
metode kajian filsafat ilmu pada zaman dan di dunia Islam?
3. Apa peranan umat islam dalam
perkembangan ilmu pengetahuan?
1.3
Tujuan
1. Agar mahasiswa mampu menjelaskan sejarah
pertumbuhan filsafat ilmu dan perkembangannya di dunia Islam, dari masuknya
filsafat ke dunia Islam sampai masa kejayaan ilmu pengetahuan.
2. Agar mahasiswa dapat mendeskripsikan
wilayah, objek, serta metode kajian filsafat ilmu pada zaman dan dunia Islam.
3. Agar mahasiswa mampu menerangkan peran
dan kontribusi umat Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Sejarah
Munculnya Filsafat Ilmu serta Pertumbuhan dan Perkembangannya di Dunia Islam.
1)
“Filsafat
islam” bukanlah filsafat Timur Tengah. Bila memang disebut ada beberapa nama
Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Timur Tengah, dalam filsafat Islam tentu
seluruhnya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antar filsafat Islam
dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik
menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun
kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid.
Maka, bila dalam filsafat lain masih “mencari Tuhan” dalam filsafat Islam
justru Tuhan “sudah ditemukan”.
Pada
mulanya filsafat berkembang dipesisir samudra Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 M yang ditandai dengan
pertanyaan-pertanyaan untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia dan Tuhan.
Dari sinilah lahirlah sains-sains besar, seperti fisika, etika, matematika, dan
metafisika yang menjadi batubara kebudayaan dunia.
Dari
Asia Minor (Mediterania) bergerak menuju Athena yang menjadi tanah air
filsafat. Ketika Iskandariah didirikan oleh Iskandar Agung pada 332 SM,
filsafat mulai merambah dunia timur, berpuncak pada 529 M.[1]
2)
“Filsafat
Timur Tengah” ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihat dari
sejarah, para filsuf dari tradisi ini sebenarnya dikatakan juga merupakan ahli
waris tradisi Filsafat Yunani. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama
adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi,
yang menaklukkan daerah-daerah disekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan
Yunani dengan tradisi falsafi mereka. Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan
komentar terhadap karya-karya Yunani.[2]
Pada
masa ini dunia Kristen Eropa mengalami abad kegelapan, ada juga yang menyatakan
periode ini sebagai periode pertengahan. Masa keemasan atau kebangkitan Islam
ditandai dengan banyaknya ilmuwan-ilmuwan Islam yang ahli dibidang
masing-masing, berbagai buku inilah diterbitkan dan ditulis. Diantara
tokoh-tokoh tersebut adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang ahli dalam
hukum Islam, Al-farabi ahli astronomi dan matematika, Ibnu Sina ahli kedokteran
dengan buku terkenalnya yaitu The Canon of Medicine. Al-kindi ahli filsafat,
Al-ghazali intelek yang meramu berbagai ilmu sehingga menjadi kesatuan dan
kesinambungan dan mensintesis antara agama, filsafat, mistik dan sufisme. Ibnu
Khaldun ahli sosiologi, filsafat sejarah, politik, ekonomi, sosial dan
kenegaraan. Anzahel ahli dan penemu teori peredaran planet. Tetapi setelah
perang salib terjadi umat Islam mengalami kemunduran, umat Islam dalam keadaan
porak poranda oleh berbagai peperangan.[3]
Terdapat
dua pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu
pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan
bahwa orang Eropa belajar filsafat dari filosof Yunani sperti Aristoteles,
melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354-430 M), yang kemudian
diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480-524 M) dan John Scotus. Pendapat
kedua menyatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari
buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh
filosof Islam seperti Al-kindi dan Al-farabi. Terhadap pendapat pertama Hoesin
(1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat
Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh
pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang
dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya
dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber
perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John Salisbury,
seorang guru besar filsafat diuniversitas Paris, tidak akan menyalin kembali
buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab,
yang telah dikerjakan oleh filosof Islam.[4]
2.
Wilayah,
Objek, Metode Kajian Filsafat pada Zaman Dunia Islam
Sebagaimana
telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari
orang-orang sophia atau sophist (500 – 400 SM) adalah Socrates (469 – 399 SM),
kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457 SM). Setelah itu diteruskan oleh
muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322 SM). Setelah zaman Aristoteles,
sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-kindi pada
tahun 801 M. Al-kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato
dan Aristoteles. Oleh raja Al-Makmun dan raja Harun Al-Rasyid pada zaman
Abbasiyah, Al-kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles
tersebut kedalam bahasa Arab.[5]
Sepeninggal
Al-kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangakan
filsafat. Filosof-filosof itu diantaranya adalah: Al-farabi, Ibnu Sina,
Jmalludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan Ibnu Rushd.
Berbeda
dengan filosof-filosof Islam terdahulunya yang lahir dan besar di Timur, Ibn
Rushd dilahirkan di Barat (Spanyol). Filosof Islam lainnya yang lahir di Barat
adalah Ibnu Baja (Avempace) dan Ibnu Tufail (Abubacer).
Ibnu
Baja dan Ibnu Tufail merupakan pendukung rasionalisme Aristoteles. Akhirnya
kedua orang ini bisa menjadi sahabat.
Sedangkan
Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun seorang
dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran berjudul Colliget, yang
dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai
seorang filosof.[6]
Islam
di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam
bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui
ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat
dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M, selama pemerintahan
penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd Al-Rahman (832-886 M).[7]
Atas
inisiatif Al-Hakam (961 – 976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari
Timur dalam jumlah besar, sehingga, Cordova dengan perpustakaan dan
universitas-universitasnya mampu manyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu
pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani
Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof
besar pada masa sesudahnya.[8]
Tokoh
utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn
Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragosa, ia
pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fez tahun 1138 M
dalam usia yang masih muda. Seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina di Timur, masalah
yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatalogis. Magnum opusnya adalah
tadbir al-Mutawahhid.[9]
Tokoh
utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil
disebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. ia banyak
menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karya filsafatnya yang
sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.[10]
Bagian
akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang
terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusdh dari Cordova. Ia
lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. ciri khasnya adalah kecermatan
dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti
masalah-masalah menahun tentang filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan
karyanya Bidayah al-Mujtahid[11].
Pandangan
Ibn Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk
mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah
memancing kemarahan pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta khalifah yang
memerintah Spanyol untuk menyatakan Ibn Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa
yang dikemukakan oleh Ibn Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam
bukunya falsafah El-Ula (First Philosophy). Al-Kindi menyatakan bahwa kaum
fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran kebenaran dengan sempurna, oleh karena
pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai.[12]
Pertentangan
antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rushd dan kaum ulama yang diwakili oleh
Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafut-El-Falasifah,
yang kemudian digunakan pula oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya
pikiran bebas di Eropa pada zaman Renaisance. Al-Ghazali berpendapat bahwa
mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis. Untuk mencapai
kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf
(mistisme). Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd
dalam karyanya Tahafut-Et-Tahafut (The Incoherence of The Incoherence).[13]
Kemenangan
pendapat Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rushd telah menyebabkan dilarangnya
pengajaran ilmu filsafat diberbagai perguruan-perguruan Islam. Hoesin (1961)
menyatakan bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rushd merupakan titik awal
keruntuhan peradaban Islam yang didukung maraknya perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2002) yang
menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan
berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat.[14]
Pada
pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan Ibnu
Rushd, sehingga saat itu berkembang 2 paham yaitu paham pembela Ibnu Rushd (Averroisme)
dan paham yang menentangnya. Kalangan yang menentang ajaran filsafat Ibnu Rushd
ini antara lain pendeta Thomas Aquinas, Ernest Renan dan Roger Bacon. Mereka
yang menentang Averroisme umumnya banyak menggunakan argumentasi yang
dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut-El-Falasifah. Dari hal ini
dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan oleh kalangan filosof di Eropa
Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah masalah yang diperdebatkan oleh
filosof Islam.[15]
Bersamaannya
dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropa mengalami kebangkitan. Pada masa ini,
buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam
seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd diterjemahkan kedalam
Bahasa Latin. Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi Bahasa kebudayaan
bangsa-bangsa Eropa. Penterjemah karya-karya kaum muslimin antara lain
dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup besar Kristen di Toledo pada
tahun 1130-1150 M. hasil terjemahan dari Toledo ini membayar sampai ke Italia.
Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj
Nabi Muhammad SAW. Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya
Aristoteles yang disalin dari bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John
Salisbury pada tahun 1182.[16]
Seperti
halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu
Rushd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka agama
Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu
disusul dengan putusan Papal Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran
dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rushd.[17]
Pada
tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam
mulai berkembang lagi. Pada tahun 1214, frederick mendirikan Universitas
Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitan-kitab
berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin. Pada tahun 1217 Frederick II mengutus
Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat
berbahasa latin karangan kaum muslim. Berkembangnya ajaran ilmu filsafat Ibnu
Rushd di Eropa Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot. Banyak
orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar
Ibnu Rushd dengan judul De Coele et De Mundo dan bagian pertama dari kitab
Anima.[18]
Pekerjaan
yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterjemahkan karya-karya
filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan ilmu
pengetahuan di Eropa Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh
Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rasyid dari dinasti Abbasiyah, untuk mendorong
pengembangan ilmu pengetahuan di jazirah Arab.[19]
Setelah
Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan
oleh putranya. Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman bernama Hermann
untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256. Hermann kemudian menterjemahkan
Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan Ibnu Rushd.
Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rushd telah diterjemahkan ke
dalam Bahasa Latin, termasuk kitab Tahafut-Et-Tahafut, yang diterjemahkan oleh
Colonymus pada tahun 1328.[20]
Kemajuan
Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada
khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Memang
banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia
dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.
Spanyol
merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik
dalam bentuk hubungan politik, sosial maupun perekonomian, dan peradaban antar negara.
Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan
Islam jauh meninggalkan negara-negara tentangganya Eropa, terutama dalam bidang
pemikiran dan sains di samping bangunan fisik. Yang terpenting diantaranya
adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198). Ia melepaskan belenggu taklid dan
menganjurkan kebebasan bepikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara
yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunnatullah
menurut pengertian Islam terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen.
Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroisme
(Ibn Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak
pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroisme ini.[21]
Berawal
dari gerakan Averroisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16
M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. buku-buku Ibn Rusyd dicetak di Vinesia
tahun 1481, 1482, 1483, 1489 dan 1500 M. Bahkan, edisi lengkapnya terbit pada
tahun 1553 dan 1557 M. karya-karyanya juga diterbitkan pada abad ke-16 M di
Napoli, Bologna, Lyonms, dan Strasbourg, dan di awal abad ke-17 M di Jenewa.[22]
Pengaruh
peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal
dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di
universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova, Seville,
Malaga, Granada dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif
menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Pusat penerjemahan itu
adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan
universitas yang sama. Universitas pertama di Eropa adalah universitas Paris yang
didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd.
Diakhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Didalam
universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari
universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti,
dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran
Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.[23]
Pengaruh
ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu
menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaisance) pusaka Yunani di
Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini
adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian
diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.[24]
Walaupun
Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam,
tetapi ia telah membidangi gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan
itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaisance)
pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung)
pada abad ke-18 M.[25]
[1] Majid Fakhri, Sejarah
Filsafat Islam, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), hlm. 357.
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] รจ id.wikipedia.org
[5] รจ blog.wordpress.com
[6] รจ
www.muslimphilosophy.com
[7] K. Bertens, Ringkasan
Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1986, hlm. 32.
[8] Ibid hal. 33
[9] Ibid
[10] Ibid hal 34
[11] .ibid
[12] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat
Hidup Ibn Rusyd, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 148 – 152
[13] ibid
[14] ibid
[15] ibid
[16] รจ www.cidcm.umd.edu
[17] Ibid
[18] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 100
[19] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 101
[20] ibid
[21] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat
Hidup Ibn Rusyd, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 148 – 152
[22] ibid
[23] ibid
[24] ibid
[25] ibid